Jemput Perubahan dengan Transformasi Digital Pemilu

Makassar, kpu.go.id – Perubahan adalah sebuah keniscayaan dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu tidak akan menunggu perubahan tersebut, tetapi menjemputnya untuk kemaslahatan orang banyak. Salah satunya dengan transformasi digital untuk mewujudkan pemilu ke depan yang lebih mudah, murah dan terpercaya.

Bentuknya yang tengah dipersiapkan KPU adalah digitalisasi pemutakhiran data pemilih berkelanjutan yang berbasis aplikasi mobile.

Hal tersebut disampaikan Anggota KPU RI Viryan dalam Rapat Evaluasi Penggunaan Aplikasi e-Coklit pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar 2020, di Makassar, Sabtu (27/3/2021). Rapat evaluasi ini dilakukan bersama Ketua Divisi Data Pemilih, Sekretaris dan Operator Sidalih dari 12 KPU Kabupaten/Kota se-Sulsel.

Ditambahkan Viryan, transformasi digital harus diletakkan secara tepat. Digitalisasi menurut dia juga bukan dalam arti sempit pemilu harus dijalankan dengan e-voting. Sebab regulasi menurut dia juga belum memungkinkan diselenggarakannya e-voting. “Seperti halnya di Korsel, surat suara pemilu tetap dengan mencoblos, namun ada mesin yang bisa menghitung sendiri. Untuk itu penting bagi kita semua meningkatkan kompetensi digital dan juga merekrut personel dengan kapasitas digital informasi,” jelas Viryan di depan peserta rapat.

Viryan melanjutkan, UU Pemilu dan UU Pemilihan untuk Tahun 2024 telah diputuskan tidak ada revisi, sehingga persiapan bisa dilakukan sejak awal, termasuk digitalisasi pemilu. Untuk menuju kerja yang benar-benar digitalisasi pemilu, ke depan bisa dimulai dari pemutakhiran data pemilih berkelanjutan dengan berbasis aplikasi mobile. Harapannya, ke depan semua pihak bisa mengaksesnya dengan kewenangan akses yang proporsional, mulai dari Bawaslu, Dukcapil, parpol, hingga level di bawah desa/kelurahan dan TPS.

Sementara itu, Ketua KPU Provinsi Sulsel Faisal Amir  mengungkapkan e-Coklit ini satu karya KPU Sulsel, khususnya KPU Kota Makassar yang membangun aplikasi tersebut. Makassar adalah kota dengan jumlah penduduk paling banyak di Sulsel dan paling banyak masalah data pemilih, hal ini berkaca dari pemilu dan pemilihan sebelumnya. Namun dengan bantuan aplikasi ini, Pemilihan 2020 kualitas data pemilih menjadi semakin baik.

“Dulu saat Pilgub 2018, saat penetapan DPT, kami dipersoalkan tentang 100 ribu pemilih yang dianggap tidak jelas. Makassar dengan jumlah penduduk besar, karakteristik yang berbeda-beda, maka jika data pemilih di Makassar ini sudah aman, maka amanlah se-Sulsel. Kemudian pada Pemilihan 2020 dengan adanya e-Coklit ini tidak ada lagi laporan permasalahan dalam rapat pleno DPT, dan ini kemajuan besar, bahkan tidak ada masalah krusial hingga ke MK,” tutur Faisal.

Faisal juga menjelaskan, dari 12 kabupaten/kota di Sulsel, hanya 5 daerah yang berproses di MK. Semua daerah penyelenggara Pemilihan 2020 yang bersengketa di MK menurut dia sudah selesai di sidang dismissal, tidak lanjut ke putusan. “Dan ini berarti semua pekerjaan berjalan lancar serta sudah hampir seluruh kepala daerah sudah dilantik, menyisakan Toraja Utara,” ucap Faisal.

Bahkan menurut dia pemilihan di tengah pandemi ini justru menghasilkan  tingkat partisipasi meningkat. Contohnya dikatakan Faisal peningkatan signifikan terjadi di Pangkep, Selayar dan Toraja Utara hingga di atas 80 persen. (humas kpu ri arf/foto: arf/ed diR)

Posted in Berita.