Masa depan bangsa tidak ditentukan nanti, tetapi dimulai dari kesadaran hari ini
CIREBON - Masa depan bangsa tidak ditentukan nanti, tetapi dimulai dari kesadaran hari ini, dari generasi muda yang berani peduli dan mengambil peran.
Pesan ini disampaikan oleh Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Cirebon, Masyhuri Abdul Wahid, saat menjadi pembina upacara di SMAN Tengahtani, Senin (20/4).
Dalam amanatnya, Ia menekankan dua nilai kunci yang harus dimiliki generasi muda: kepedulian dan keberanian mengambil peran. Terlebih, dalam waktu dekat sebagian besar siswa akan memasuki usia 17 tahun—usia di mana hak pilih melekat, dan peran sebagai warga negara dimulai secara nyata.
“Pemilih muda jumlahnya lebih dari separuh total pemilih. Artinya, kalian bukan pelengkap, bukan penonton—kalian adalah penentu,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengajak siswa memahami bahwa pemilu bukan sesuatu yang jauh dan abstrak. Kualitas pendidikan, akses pekerjaan, pembangunan infrastruktur, hingga ruang bagi kreativitas anak muda—semuanya dipengaruhi oleh keputusan politik yang ditentukan melalui pemilu.
Ia juga mengingatkan bahaya sikap apatis, termasuk anggapan bahwa satu suara tidak berarti. Justru dari sikap itulah, masa depan berpotensi besar ditentukan hanya oleh segelintir orang saja.
Di era digital, tantangan pemilih pemula semakin kompleks. Arus informasi yang cepat sering kali diwarnai hoaks, provokasi, dan opini yang menyesatkan. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadi pemilih yang berpikir—mampu memilah informasi, tidak mudah terpengaruh, dan mengambil keputusan secara sadar.
Menutup amanatnya, Masyhuri mengajak para siswa untuk mulai dari hal sederhana: mau belajar, berani mencari informasi yang benar, memilih dengan hati nurani dan akal sehat, serta tetap menjaga persatuan meski berbeda pilihan.
“Pemilih pemula bukan generasi penunggu, tetapi generasi penentu. Dari sinilah masa depan Cirebon dan Indonesia dibentuk,” tegasnya.