Sosialisasi

Suara Anak Muda, Arah Demokrasi Kita

CIREBON - KPU Kabupaten Cirebon kembali menghadirkan Program Rutin Podcast dengan tema: “Menjembatani Aspirasi Anak Muda Pasca Pemilu” Kamis, 23 April 2026 di Ruang Podcast KPU Kabupaten Cirebon Dipandu oleh Ketua Divisi Sosdiklih, Parmas dan SDM KPU Kabupaten Cirebon, Masyhuri Abdul Wahid, S.Sos. Podcast kali ini menghadirkan narasumber inspiratif: Muhammad Asyrof Abdik, S.Hub.Int, Anggota Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat. Melalui dialog yang hangat dan penuh gagasan, podcast ini menjadi ruang terbuka untuk menyuarakan aspirasi, memperkuat peran, serta mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam demokrasi pasca pemilu. Karena demokrasi tidak berhenti di bilik suara justru dimulai dari keberanian untuk terus bersuara dan berkontribusi. Mari bersama kita jembatani ide, harapan, dan aksi nyata anak muda demi masa depan demokrasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Kartini Hari Ini: Berani Memilih

CIREBON Kartini hari ini bukan sekadar dikenang—tetapi dilanjutkan. Bukan hanya tentang perempuan, tetapi tentang keberanian generasi muda mengambil peran dan menentukan masa depan. Pesan ini disampaikan Ketua KPU Kabupaten Cirebon, Esya Karnia Puspawati, saat menjadi Pembina Upacara Peringatan Hari Kartini Tahun 2026 di SMAN 1 Beber, Selasa (21/4). Kehadiran ini menjadi ruang menyapa, mengajak, dan menanamkan kesadaran bahwa demokrasi dimulai dari diri sendiri. Di hadapan para siswa, Esya menegaskan, dalam demokrasi, semua manusia setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Satu orang, satu suara, satu nilai. Hari Kartini, menurutnya, bukan hanya milik perempuan. Ini adalah tentang kesetaraan, tentang bagaimana setiap manusia—laki-laki dan perempuan—memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi membangun bangsa. Ia mengajak para pelajar untuk tidak menjauh dari politik. Karena tanpa disadari, keputusan politik hadir dalam kehidupan sehari-hari: dari pendidikan yang mereka tempuh, peluang kerja di masa depan, hingga ruang bagi mimpi-mimpi mereka untuk tumbuh. Namun, menjadi generasi muda hari ini tidak mudah. Di tengah derasnya arus informasi, hoaks dan manipulasi digital menjadi tantangan nyata. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya menggunakan akal sehat, mencari sumber informasi yang benar, dan tidak mudah terpengaruh oleh yang sekadar viral. Lebih dari itu, Esya mengajak mereka menjadi pemilih yang cerdas dan bertanggung jawab—yang mengenal siapa yang dipilih, memahami rekam jejaknya, dan tidak menukar masa depan hanya dengan iming-iming sesaat. Data menunjukkan, bahwa lebih dari 50% pemilih ke depan adalah generasi muda. Artinya, masa depan demokrasi benar-benar ada di tangan mereka. Menutup amanatnya, ia menegaskan bahwa perempuan hadir bukan untuk bersaing, tetapi untuk berjalan berdampingan, membangun peradaban bersama. Hari ini Kartini hidup dalam keberanian berpikir, bersuara, dan memilih. Dan dari sekolah ini, masa depan itu sedang disiapkan.

Masa depan bangsa tidak ditentukan nanti, tetapi dimulai dari kesadaran hari ini

CIREBON - Masa depan bangsa tidak ditentukan nanti, tetapi dimulai dari kesadaran hari ini, dari generasi muda yang berani peduli dan mengambil peran. Pesan ini disampaikan oleh Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Cirebon, Masyhuri Abdul Wahid, saat menjadi pembina upacara di SMAN Tengahtani, Senin (20/4). Dalam amanatnya, Ia menekankan dua nilai kunci yang harus dimiliki generasi muda: kepedulian dan keberanian mengambil peran. Terlebih, dalam waktu dekat sebagian besar siswa akan memasuki usia 17 tahun—usia di mana hak pilih melekat, dan peran sebagai warga negara dimulai secara nyata. “Pemilih muda jumlahnya lebih dari separuh total pemilih. Artinya, kalian bukan pelengkap, bukan penonton—kalian adalah penentu,” tegasnya. Lebih jauh, ia mengajak siswa memahami bahwa pemilu bukan sesuatu yang jauh dan abstrak. Kualitas pendidikan, akses pekerjaan, pembangunan infrastruktur, hingga ruang bagi kreativitas anak muda—semuanya dipengaruhi oleh keputusan politik yang ditentukan melalui pemilu. Ia juga mengingatkan bahaya sikap apatis, termasuk anggapan bahwa satu suara tidak berarti. Justru dari sikap itulah, masa depan berpotensi besar ditentukan hanya oleh segelintir orang saja. Di era digital, tantangan pemilih pemula semakin kompleks. Arus informasi yang cepat sering kali diwarnai hoaks, provokasi, dan opini yang menyesatkan. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjadi pemilih yang berpikir—mampu memilah informasi, tidak mudah terpengaruh, dan mengambil keputusan secara sadar. Menutup amanatnya, Masyhuri mengajak para siswa untuk mulai dari hal sederhana: mau belajar, berani mencari informasi yang benar, memilih dengan hati nurani dan akal sehat, serta tetap menjaga persatuan meski berbeda pilihan. “Pemilih pemula bukan generasi penunggu, tetapi generasi penentu. Dari sinilah masa depan Cirebon dan Indonesia dibentuk,” tegasnya.

Demokrasi yang kuat lahir dari pendidikan yang baik, partisipasi aktif dan kolaborasi terintegrasi: Guru Hebat, Demokrasi Kuat

CIREBON - KPU Kabupaten Cirebon terus memperluas kolaborasi untuk membangun demokrasi yang berkualitas! Sabtu (18/04), Ketua KPU Kabupaten Cirebon, Esya Karnia Puspawati, S.H., hadir sebagai narasumber dalam Kegiatan Pengembangan Kompetensi Guru Pendidikan Pancasila melalui MGMP PPKn Tingkat Kabupaten Cirebon, bertempat di Aula Pangeran Walangsungsang. Diikuti oleh 60 guru Pendidikan Pancasila tingkat SMP, kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang kolaborasi antara penyelenggara pemilu dan dunia pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai demokrasi sejak dini. Dalam penyampaiannya, Ketua KPU menegaskan bahwa: - KPU memiliki peran vital dalam memastikan pemilu berjalan luber dan jurdil - Literasi demokrasi perlu diperkuat, khususnya di kalangan pelajar - Kolaborasi dengan guru menjadi kunci dalam meningkatkan partisipasi pemilih Tak hanya itu, berbagai program seperti KPU Goes to School dan KPU Mengajar terus didorong sebagai upaya menghadirkan pendidikan pemilih yang berkelanjutan. Dari sisi pengawasan, Ketua Bawaslu Kabupaten Cirebon, Sadaruddin Parapat, S.Pd., turut mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga demokrasi tetap sehat—karena demokrasi bisa melemah jika kritik tidak lagi mendapat ruang. Sementara itu Ketua Divisi Sosdiklih, Parmas dan SDM KPU Kabupaten Cirebon, Masyhuri Abdul Wahid, S.Sos., menyampaikan ucapan terimakasih atas keterlibatan para guru dalam Badan Adhoc. Ke depan, keterlibatan akan dimassifkan hingga ke tingkat pemilih pemula untuk menjadi penyelenggara Pemilu. Terus jaga semangat, kebersamaan, dan peran aktif sebagai garda terdepan dalam menumbuhkan nilai-nilai demokrasi di lingkungan pendidikan dan masyarakat.

Satu suara mungkin terlihat kecil, tapi dari sanalah masa depan bangsa ditentukan

CIREBON - KPU Kabupaten Cirebon hadir di SMAN Tengahtani, Selasa (14/4/2026), untuk mengajak pemilih pemula memahami peran besarnya dalam demokrasi. Melalui kegiatan KPU Mengajar, generasi muda diajak lebih sadar bahwa mereka bukan sekadar peserta, tetapi penentu arah kepemimpinan ke depan. Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Kabupaten Cirebon, Apendi, menjelaskan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat dan diwujudkan melalui Pemilu yang dilaksanakan setiap 5 tahun. Pemilu menjadi sarana sah untuk memilih Presiden, DPR, DPD, hingga DPRD—sebagai bentuk nyata dari sistem demokrasi yang dijalankan di Indonesia. Ia juga mengingatkan bahwa hingga tahun 2024, Indonesia telah melaksanakan Pemilu sebanyak 13 kali. Artinya, demokrasi adalah proses panjang yang terus dijaga dan diperkuat, bukan sesuatu yang instan. Lebih dari itu, Apendi menegaskan pentingnya integritas dalam memilih. Pemilih pemula harus berani menolak praktik money politic dan tidak mudah tergiur oleh iming-iming sesaat. Pilihan harus didasarkan pada visi, misi, serta rekam jejak calon, bukan karena kepentingan sesaat. Partisipasi masyarakat menjadi kunci. Semakin tinggi tingkat partisipasi pemilih, semakin kuat legitimasi pemimpin yang terpilih. Di sinilah peran penting pemilih pemula—menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab. Dalam pemaparannya, juga ditegaskan bahwa demokrasi Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila: menjunjung kebersamaan, toleransi, musyawarah, serta keseimbangan antara hak dan tanggung jawab. Generasi muda pun diajak untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi, aktif mencari informasi, dan tidak mudah terpengaruh hoaks. Karena menjadi pemilih cerdas bukan hanya datang ke TPS, tetapi juga memahami makna dari setiap pilihan. Dari ruang kelas hari ini, lahir harapan untuk demokrasi yang lebih kuat esok hari.

Lebih dari separuh pemilih Indonesia adalah anak muda

CIREBON - 53 persen bukan angka kecil. Itu adalah kekuatan terbesar dalam demokrasi kita — yang sayangnya, sering kali tidak menyadari betapa besarnya diri mereka sendiri. Dan pagi ini (6/4/2026), KPU Kabupaten Cirebon datang ke SMAN 1 Dukupuntang. Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Masyhuri Abdul Wahid, menjadi pembina upacara. Ia mengajak ratusan siswa yang berbaris di hadapannya melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian mereka — bahwa kehidupan sehari-hari mereka, dari kualitas sekolah hingga jalan yang mereka lewati tiap pagi, tidak terlepas dari keputusan politik. Dan keputusan politik lahir dari suara rakyat. Termasuk suara mereka. Karena di bilik suara, tidak ada perbedaan jabatan. Suara seorang siswa SMA di Dukupuntang nilainya persis sama dengan suara seorang menteri, seorang pengusaha, seorang tokoh yang namanya sudah dikenal se-Indonesia. Satu orang, satu suara, satu nilai yang setara. Yang membedakan hanya satu hal: apakah suara itu digunakan dengan sadar, atau dibiarkan berlalu begitu saja. Di penghujung amanat, Masyhuri meminta para siswa mengucapkan sesuatu bersama-sama. Kalimat sederhana yang kemudian menggema di lapangan upacara itu — "Kami adalah generasi penentu". Tidak ada yang tahu persis seperti apa Indonesia dua puluh tahun ke depan. Tapi satu hal sudah pasti — ia akan sangat bergantung pada keputusan yang dibuat oleh anak-anak yang hari ini masih belajar mengeja masa depan mereka sendiri.

Populer

Belum ada data.

🔊 Putar Suara